Sabtu, 18 Juni 2016

CINTA SEJATI


Kadang cinta itu buta, tak bisa mencari kesempurnaan tatkala hati yang mulai berbicara. Sama halnya dengan diriku, aku..., yang jatuh cinta kepada angin.

Aku adalah Mawar, aku memiliki rupa yang sangat cantik, warna yang begitu menarik, dan kelopak yang sungguh indah. Hingga aku selalu digoda oleh para Kumbang dan juga Lebah. Ya, itulah mereka yang selalu menggodaku, setiap hari Lebah dan Kumbang di Taman ini selalu datang silih berganti, mereka berusaha untuk mendapatkan hatiku. Namun, tak ada satupun dari mereka yang membuatku jatuh cinta. Karena aku tahu, mereka hanyalah penggombal yang ingin mencari keuntungan. Mereka merayu dan mendekatiku agar aku dapat jatuh cinta pada salah satu dari mereka, agar mereka dapat mengambil nektar ku.

*”Hai mawar, kau sungguh cantik dan kecantikanmu sungguh tak ada duanya” kata sang kumbang.

*“Trimakasih” balasku padanya.

*”Mawar, kau jangan percaya padanya!, percayalah padaku.., aku akan memberimu kebahagiaan” timpa sang lebah.

*”Hey, lebah!, Mawar tak akan menyukaimu, ia lebih memilihku”balas kumbang.

Ya, itulah yang terjadi setiap hari, mereka berdebat untuk memperebutkan diriku, kadang sang Kumbang bernyanyi, kadang pula sang Lebah memujiku dengan kata-kata manisnya, semanis madu yang ia keluarkan. Namun aku hanya mengucapkan “terimakasih” pada mereka, walau mereka sangat menawan, aku tetap saja tak bisa jatuh cinta pada salah satu dari mereka.

Hingga suatu ketika, aku membuka hatiku. Bukan pada Kumbang atau pun Lebah yang senantiasa merayu, namun pada “dia” yang bernama Angin. Entah mengapa aku mencintainya, yang aku tahu hanyalah, dia selalu membuatku berdebar tiap kali ia berhembus di samping kelopak ku, aku selalu merasa damai ketika ia bertiup dengan lembutnya. Aku tak perduli bagaimana bentuk rupanya, yang aku rasakan adalah aku mencintainya dan itu sangat memberiku ketenangan.

Setiap sore, angin selalu datang untuk sekedar melihatku. ia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, setiap saat ia berhembus di sampingku. Bagaikan nyanyian merdu yang mengisi segala sepi dalam diriku yang hanya sendiri di dalam taman ini. Sampai pada suatu hari, angin datang menemuiku seperti biasanya, namun ia melihat begitu banyak Lebah dan Kumbang yang mendekat padaku. Tidak, mereka tidak lagi mendekati ku untuk membuatku jatuh cinta, mereka melakukannya hanya untuk menghiburku saja yang sedang bersedih menunggu Angin yang tak kunjung datang. Melihat mereka, angin begitu marah padaku, ia meluapkan segala emosinya. Ia berhembus dengan kuat hingga kelopakku jatuh perlahan-lahan, dan daunku berguguran. Setelah itu Angin pergi entah kemana, ia meninggalkanku. Kumbang  juga pergi meninggalkanku, ia bilang aku sudah tak tak cantik lagi, kelopakku telah lenyap sebagian dan daun-daunku juga telah jatuh berguguran tak tersisa. Kumbang tak mampu melihat ketidaksempurnaanku, namun lebah masih tetap bertahan, ia masih sudih menemaniku.

Setiap hari, aku selalu menangis mengingat Angin. Aku merindukannya. Begitu besar rasa cintaku padanya hingga aku tak pernah perduli bagaimana rupa Angin, tapi mengapa ia meninggalkanku??!, hanya karena masalah yang ia tak tahu kebenarannya, dan hanya karena aku tidak seperti dulu lagi. Kini aku semakin bersedih, lantaran lebah memutuskan untuk menjauhiku, karena wujudku tak sama seperti dulu lagi, aku tak cantik lagi, tubuhku semakin kering kerontang, aku telah berubah. Bukan lagi Mawar yang dulu, tak ada lagi Mawar cantik yang selalu mereka rayu, dan tak ada lagi mereka yang berdatangan untuk memperebutkan hatiku.

Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Air. Air menceritakan segalanya padaku, tentang ia yang selalu membasahi Taman ini, agar aku tetap hidup, dan tentang dia yang begitu mencintaiku.

*”Aku malu padamu” Kataku pada Air.

*”kenapa?”.

*”Aku sudah tak sempurna lagi, tapi kau masih memberikan air mu padaku”.

*”Ketahuilah Mawar, aku jatuh cinta padamu, sejak awal aku melihatmu di Taman ini, tapi diriku tak berani mendekatimu, lantaran rupa mu yang begitu cantik, aku dikalahkan oleh mereka yang selalu mendekatimu, mereka sangat menawan, aku takkan bisa sebanding dengan mereka. Apalagi saat aku mengetahui bahwa kau begitu mencintai Angin, aku hanya bisa tersenyum memandangmu bahagia, namun aku tak pernah berhenti untuk mengaliri Taman ini, agar kau dapat hidup lebih lama dan bahagia bersamanya, bahkan aku tak perduli akan banyaknya luka yang seringkali muncul kala aku melihat  kau bersamanya, cukup kau bahagia saja, itu sudah sangat membuatku bersyukur”. Jelasnya padaku.

Aku malu, aku menyesal..!, mengapa aku tak pernah perduli pada Air yang begitu tulus mencintaiku, aku hanya terpaku pada Angin yang hanya datang sesaat dan pergi lagi, tanpa pernah berkorban sedikit pun padaku.

*”Trimakasih Air”

Kini hari-hariku terasa indah bersama Air, perlahan-lahan aku melupakan Angin dan mulai mencintai Air. Wujudku pun telah berubah seperti sediakala. Kumbang dan Lebah yang dulunya menjauh, kini mendekatiku kembali. Tetapi aku tak perduli lagi pada mereka yang tak mampu menerima ketidaksempurnaan, aku ingin hidup bersama Air yang mencintaiku dengan tulus, tanpa pernah menghitung setiap pengorbanan yang ia lakukan padaku.

*Kadangkala kamu dibutakan oleh rasa cinta yang begitu dalam terhadap seseorang, hingga kamu mampu berkata “NYAMAN”, tanpa pernah mencari tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang engkau rasakan. Hingga ia pergi meninggalkan mu dan kamu menyesal dalam keterpurukan, menyalahkan diri sendiri, atau menyalahkan dia yang telah pergi.

Tanpa kamu menyadari, ada seseorang dalam hidupmu yang begitu mencintaimu dengan tulus, bahkan mengorbankan dirinya sendiri agar dapat melihat mu bahagia, meski bersama orang lain. Tanpa pernah menghitung setiap pengorbanan yang ia lakukan untukmu.

#kadangkala cinta sejati adalah "dia" yang tak pernah kau duga

Selasa, 31 Mei 2016

Jangan pernah sia-siakan apa yang bisa membuatmu menjadi "KAMU"

Logikanya kamu ingin menggambar. Tapi hanya memiliki pensil dan penghapus. kamu berfikir tanpa crayon gambarmu tak akan sempurna.

Salah ! Jangan pernah berhenti menggambar hanya karena satu kendala saja yang sebenarnya gambarmu juga akan menjadi luar biasa meski tanpa pewarna.

So...
Ketika kamu ingin menggapai sesuatu, dan salah satu dari sekian banyak yang membuat tujuanmu tercapai ada di depan mata. AMBIL dan GUNAKAN sebaik-baiknya jangan menunggu sampai ia lengkap. Karena sesuatu yang membuatmu PUAS butuh proses yang tidak mudah dan sedikit lama.

Jadi.. jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada jika ia adalah salah satu penyebabnya kamu dapat berkembang.

Ardeur !💪

Minggu, 17 April 2016

PENA TERAKHIR


Pena Terakhir
Oleh: Febhy Syafri

“Lara.. makan dulu nak” kata seorang wanita yang ku panggil ibu.
“Sebentar bu..Lara sedang ingin menuntaskan tulisan ini” kataku pada sang wanita yang selalu menjadi motivasiku untuk tetap bertahan hidup, dari kerasnya tiang tiang yang ingin ku patahkan.
Namaku Lara Delisa panggil saja aku Lara. usiaku 15 tahun, jika kalian melihatku mungkin kalian mengira aku berumur 20 tahun, wajahku terlihat seperti orang dewasa sangat jauh dari perbandingan umurku, mungkin kalian bertanya-tanya mengapa demikian, atau beberapa dari kalian mungkin tak percaya dengan kata-kataku, 2 tahun yang lalu aku divonis terkena leukemia stadium akhir, saat itu aku begitu kacau. Dokter memintaku untuk tidak lagi melanjutkan sekolah tapi aku bersih keras memohon pada ibu agar aku tetap bersekolah, hari-hari di sekolah yang kujalani tidak seperti dulu lagi, aku lebih sering berada di dalam kelas, dan setiap jam makan siang kepalaku selalu sakit, kadang ada darah yang keluar dari hidungku, kadang aku malu dengan teman-temanku mereka menatapku seperti monster mengerikan, terlebih lagi rambutku kadang gugur dan tersebar di lantai kelas, mereka memandang jijik padaku, hingga aku kadang marah pada mereka dan itu semakin membuat mereka ketakutan padaku.
“huuuu...huuu..”
“Lara !! kamu kenapa nak?”
“Mereka jahat padaku bu” kataku sambil menangis
“Apa yang mereka lakukan padamu?”
“Aku seperti monster bagi mereka, mereka mengejekku”
Siang tadi setelah mereka mengejekku aku bergegas mengambil tasku dan pulang ke rumah, tanpa meminta izin kepada bu Erni guru mate-matika di kelasku, air mataku tak bisa kubendung aku tak mau mereka melihatku semakin lemah dengan menyaksikan aku menangis di hadapan mereka. Begitu sampai aku segera masuk ke kamar, ibu melihatku menangis ia mencoba menenangkanku dengan memelukku pelukan ibu begitu damai membuatku sedikit lebih tenang.
“Bu.. aku tak ingin sekolah lagi, aku malu”
“baiklah nak jika itu keinginanmu, tidak apa-apa dan sebaiknya kamu menjalani kemoterapi saja agar kamu bisa sembuh dari penyakitmu dan bisa bersekolah lagi”
Kemoterapi.. adalah suatu hal yang sangat aku hindari, aku takut jika rambutku yang panjang nantinya akan habis dan wajahku pasti sangat jelek, dan disinilah aku sekarang di taman ini tempat yang selalu aku gunakan untuk membuat surat, disisa umurku aku ingin membuatkan ibu satu surat untuk selalu ia baca ketika aku sudah tak ada lagi, bahkan aku menunda ajakan ibu untuk makan demi membuat surat ini aku bukan orang yang mahir dalam berkata-kata tapi aku terus mencobanya, entah ini sudah pena yang keberapa, isi surat ku masih jelek sehingga jika salah aku pasti merobek kertasnya.

*pagi
Hari ini aku bangun lebih awal, ibu telah menyiapkan perlengkapanku untuk kugunakan di sana, ya ini adalah hari pertamaku melakukan kemoterapi masih ada kebimbangan dan ketakutan dalam hatiku, tapi aku harus mengabaikannya. Aku harus membanggakan ibu, ibu yang selalu berjuang demi hidupku meski aku sendiri tahu, sangat kecil kemungkinanku untuk sembuh.
“sudah siap sayang?”
“sudah bu”
“kamu harus optimis, kamu bisa!”
Kata-kata ibu selalu seperti pemanis dalam setiap pil pahit kehidupan yang ku hadapi, ibu adalah wanita motivatorku, aku begitu bangga padanya, kadang ingin rasanya menangis melihat ibu yang begitu kuat, merawatku seorang diri tanpa ayah. Raut wajahnya yang mulai menua tercetak halus di sudut matanya menggambarkan garis-garis kecil di sana, ya setelah kepergian ayah, ibu semakin menjadi wanita yang tangguh dan penuh keyakinan, ayah pergi meninggalkan aku dan ibu akibat kecelakaan tragis yang membuat ayah meninggal sewaktu aku masih berada di dalam kandungan, sebab itulah aku tak pernah tahu wajah asli ayah seperti apa, aku hanya mengaguminya lewat foto yang dipajang ibu dekat meja rias di dalam kamarnya, tapi itu semua tak membuat ibu putus asa, satu kata-kata ibu yang selalu ia berikan kepada orang-orang terdekatnya, “jangan pernah mengeluh” dan itu pula yang kutanamkan hingga sekarang.
Kami telah tiba di sebuah rumah sakit yang lumayan besar ini memang di khususkan untuk para penderita kanker sepertiku leukemia atau yang biasa disebut kanker darah, aku dan ibu dihampiri oleh seorang pria, mungkin dia lebih muda dari ibu, ia yang nantinya akan menjadi dokter pribadiku selama aku di kemo di rumah sakit ini.
“Selamat pagi Ny.Arsy”
“Pagi Dokter” jawab ibu
“Halo Lara, apa kabar?”
“Baik dokter” kataku melemparkan senyumku padanya
“Saya dokter Frans, yang akan menangani kamu selama disini, Mari ikut saya”
Kami segera mengikuti langkah dokter Frans, yang berjalan menuju sebuah ruangan yang bisa kubilang sedikit lebih sepi dari ruangan lain, terlihat di sana ada tiga orang perawat yang sedang menunggu kami, lebih tepatnya menungguku.
“Selamat pagi!!” ucap semua perawat itu kepada kami
“pagi” kataku dan ibu bersamaan.
“Mari silahkan masuk, ibu tunggu di luar saja yah” kata seorang dari perawat itu.
Kulihat dari name tag yang ia kenakan, namanya  Sarah. Namanya sangat indah, wajahnya pun begitu cantik, aku disuruh berbaring disebuh tempat tidur khusus kemo, kulihat alat-alat medis di sana, sang dokter mulai mengambil suntikannya, ada rasa takut  dalam diriku tapi aku mengingat raut wajah ibu, ia pasti cemas menungguku di luar sana,aku harus kuat pasti ini tak akan sakit. Para perawat tadi memegang kaki dan tanganku, apa yang akan terjadi padaku?, mengapa mereka begitu berlebihan?, kupejamkan mataku ketika dokter mendekatkan suntikan itu pada lenganku.
“aaaaaarrgghh!! Dokter sakit!!”
Seakan bagai disengat listrik beribu-ribu volt yang aku rasakan begitu cairan dari suntik itu menyebar ditubuhku.
"Tolongg hentikan,ini sakit suster!!!"
Aku meronta hebat, rasanya begitu sakit aku kira suntikan ini seperti saat aku di suntik waktu SD namun ternyata sangan jauh berbeda, ingin rasanya aku mencabut suntikan itu dan berlari keluar, aku ingin pulang ini sungguh menyakitkan. Air mataku mulai menetes di sana, aku merasa sebentar lagi akan mati.

*Ny.Arsy
“aaaaaarrgghh!! Dokter sakit!!”
Itu teriakan Lara anakku, suaranya begitu keras dan menggema dari luar ruang kemo itu, oh tuhan aku sungguh ingin memeluk putriku, atau aku ingin menggantikannya saja, biar aku yang merasakan sakit itu. Ku coba menahan air mata ini namun rasanya aku sudah tak sekuat hari kemarin lagi, perempuan mana yang baik-baik saja ketika melihat anaknya kesakitan?, aku tak ingin menyakiti Lara namun aku pun juga takut kehilangannya, dan ini adalah jalan satu-satunya yang harus ku lakukan pada Lara putriku. Kulihat dia dari balik kaca di pintu ruang kemo ini, ia sungguh kesakitan, aku menutup mulutku rapat-rapat untuk tetap terdiam walau air mataku semakin lama semakin membasahi wajah ini, kusandarkan tubuhku di pintu itu dan aku terduduk di sana, kenapa harus anak ku tuhan?,  mengapa tak kau pilih diriku saja untuk merasakan sakit yang teramat ini?, mengapa harus dia?, dia masih terlalu muda untk merasakan kesakitan ini, sedangkan aku?, aku telah tua di makan usia, mengapa bukan aku,?? , ku tekuk kakiku dan kupeluk berharap aku dapat menyembunyikan wajah lemahku di sana, kututup telingaku agar tak mendengar teriakan putriku, yang membuatku sangat sakit mendengarnya.
*Lara
Aku terbangun dari tidurku yang begitu panjang. Kata ibu, dokter memberiku obat penenang agar aku tidak langsung meronta keluar saat pengobatan selesai, kepalaku sangat pusing dan aku mual.
“Ibu.. aku mau muntah”
“di sini saja nak”
Ibu memberiku sebuah wadah untuk ku gunakan saat ingin membuang sampah dalam perutku, rasanya sangat tidak enak.
“Bu.. harus berapa kali aku di kemo?”
“Sampai Lara sembuh nak”
“Ini sangat tidak enak bu, Lara lebih suka di rumah kita, ayo kita pulang bu”
Ibu tak menjawab kata-kataku ada pancaran kesedihan dimatanya, ibu mengusap kepalaku, menenangkanku di sana hingga aku tertidur kembali.

*Hari Ke-5
Hari-hari yang kulalui sangat berbeda dengan para remaja lain, jika mereka berjalan-jalan di Mall, aku hanya menetap di ruangan ini, jika bukan aku di bawah ke taman rumah sakit ,dengan ditemani penaku yang selalu setia ku bawa kemana saja untuk membuat selembar surat untuk ibu.
“halo sayang gimana kemonya ?”
“baik bu”
“aduh rambut kamu nih, sini ibu sisir”
Mendengar perkataan ibu, aku langsung membetulkan posisiku agar ibu lebih mudah menyisir rambutku, aku begitu senang saat ibu seperti ini padaku, kurasakan ibu menyisir rambutku begitu halus, penuh perasaan, tapi seketika gerakan tangan ibu terhenti, ada apa dengan ibu?
“Buu kenapa ibu berhenti?”
Ibu hanya terdiam, tak menjawabku. Aku mendengar sebuah isakan di balik punggungku, apa ibu menangis? Hingga rasa penasaranku membuatku berbalik melihat ibu, aku terkejut melihat ibu yang menangis sambil melihat helaian-helaian rambut di tangannya.
“Buu, apakah itu rambutku?”
Pertanyaanku tak dijawab lagi oleh ibu, ia masih terus menangis dan akhirnya memelukku, kupegang kepalaku yang bersandar di bahu ibu kusisir rambutku dengan jemari tangan ini, ketika kulihat begitu banyak rambut yang melekat di sana, dan aku sudah tahu jawabannya.
“Buu, sebaiknya hentikan saja kemoterapi ini, Lara sudah tidak kuat lagi bu sakitnya selalu membuatku muntah dan..”
“jangan bicara seperti itu, kau harus kuat. Kau istirahat saja besok ibu akan datang lagi kesini membawa bolu kukus kesukaanmu”kata ibu berusaha menormalkan suaranya
“benarkah bu? Wah, semoga aku bisa memakannya besok”
“selamat malam sayang”
Kulihat ibu melangkahkan kakinya keluar dari ruanganku, begitu banyak rasa rindu di sana,malam ini kulanjut menuliskan surat untuk ibu, aku takut jika aku meninggalkan ibu tanpa memberinya kenang-kenangan, meski kepalaku pusing dan harus keluar masuk toilet untuk mengeluarkan muntahku, aku tak pernah ingin menyerah membuatkan ibu sebuah surat, bagiku ini tak ada artinya dibanding pengorbanan ibu sewaktu mengandungku hingga sampai sekarang ibu masih merawatku yang kesakitan.

*Ny.Arsy
Pagi ini aku sudah tak sabar bertemu dengan putri cantikku, bahkan pagi-pagi sekali aku sengaja membuatkannya bolu kukus kesukaanya, semoga dia makan dengan lahap, kuparkirkan mobil ku ditempat parkir yang tersisa di sana, ka langkahkan kakiku menuju ruangan Lara, putriku. Kulihat ruangannya dari luar ada beberapa dokter dan perawat di sana, ada apa ini?.
“pagi!!”
Kerumunan itu seketika berhamburan, memperlihatkan putriku terbujur kaku di sana, kulihat darah dari hidung dan mulutnya, aku sontak kaget dan tanganku menjadi lemah.

Prangggghhhhhh!!!!!

tempat kue yang ku pegang sedaritadi, jatuh berhamburan di sana. Aku berlari ketempat putriku berada, tak ku pedulikan beberapa pasang mata yang begitu sedih melihatku.
“Lara !!, nak bangun nak, oh tuhan!” kataku memeluk putriku
“Maafkan saya Ny.Arsy, saya tidak bisa menyelamatkan putri ibu”
“maksud anda apa dokter?”
“Putri ibu sudah meninggal, kami berusaha menyelamatkannya tapi tuhan berkata lain, kemoterapi yang kami lakukan adalah yang terbaik namun tak mampu lagi mematikan separuh dari sel-sel kanker yang bersarang di tubuhnya"
Menangis, hanya itu yang kulakukan andai nyawaku dapat ditukar dengannya aku siap mati sekarang juga. Dulu aku kehilangan separuh dari hatiku, dan sekarang aku kehilangan separuhnya lagi. Aku tak memiliki hati lagi sekarang, bagaimana aku bisa hidup tanpa hatiku?. Orang-orang satu persatu telah pergi meninggalkan pemakaman putriku, Lara. Rasanya seperti mimpi, dia tidak ada lagi, tak ada lagi perempuan mungil yang menghabiskan masakanku, tak ada lagi rambut panjang yang selalu kusisir, tak ada lagi rengekan darinya untuk menyuruhku membacakan dongeng dan masih banyak lagi, nak ibu merindukanmu. Kubuka kertas yang kutemukan di bawah bantalnya, masih terlihat jelas di sana bekas darah entah dari hidung atau bibirnya, bisa kurasakan pasti ia begitu kesakitan saat menulis ini.

Untukmu, ibu tersayang.
Ibu entah mengapa malam ini aku begitu gelisah, aku takut jika aku harus pergi lebih cepat sebelum aku dapat menyelesaikan suratku ini, ibu kau harus tahu kau tak pernah salah dalam mendidikku, sikapmu yang kuat telah menjadikanku seorang gadis yang juga kuat, sama sepertimu..
Ibu kau tahu?, aku selalu takut dikemo..aku takut jika suatu saat rambutku akan gugur, dan akan hilang seluruhnya, bila rambutku gugur semua, tak ada lagi yang bisa kau sisir setiap pagi, ibu.. ternyata kemoterapi itu tidak seperti yang kubayangkan, rasanya begitu sakit buu, kadang aku ingin menyerah tapi kau selalu menjadi motivasiku untuk bertahan..
Ibu jika esok aku tak lagi bersamamu, kau jangan marah karena tak memakan bolu kukus buatanmu,aku tahu kau pasti membuatnya dengan sepenuh hati hingga rasanya selalu lezat, aku pasti akan merindukannya.
Ibu.. jika kau telah membaca ini, berarti ini adalah pena terakhirku..dalam waktuku yang kurang ini, aku selalu berusaha menulis surat untukmu, tapi hasilnya sangat jelek hingga malam ini mungkin tuhan mendengar doaku, dan iba melihatku yang telah letih menulisnya, mungkin suratku akan sedikit kotor bu, karena darah dari hidungku tak bisa berhenti mengalir di sana, tapi percayalah aku menulisnya dengan segenap hati yang bersih. Aku sangat menyayangimu seandainya tuhan memberiku satu kesempatan lagi, aku ingin mati dalam pelukanmu.
Selamat tinggal wanita hebatku, sampai di sinilah perjuanganku.  Sebentar lagi aku akan bertemu ayah dan akan kuceritakan padanya bahwa ibu sangat merindukan ayah.

Salamku,dari putrimu

Kini tangisku pecah, membaca surat darinya membuatku begitu terluka, aku tak menyangka ia sekuat itu karena ingin membahagiakanku, kuletakkan mawar putih di sana, gerimis mulai turun seakan terhanyut dalam kesedihanku, “semoga kau tenang di sana nak”, kataku dan berlalu pergi.

Minggu, 20 Maret 2016

CERPEN


EDELWEISS
Petiklah untukku walau hanya setangkai

            Aku adalah wanita, namun aku belum menjadi wanita seutuhnya. Orang-orang yang melihatku mungkin merasa bahwa aku sempurna tanpa secuil kekurangan, namun itu hanyalah penglihatan mereka saja, tanpa tahu diriku yang sebenarnya. Aku selalu merasa bahwa tuhan tak begitu adil memberiku takdir yang harus kujalani seperti ini, dari luar fisikku begitu sempurna, rambut panjang tergerai indah hitam berkilau, hidung mancung dan kulitku yang putih. Tetapi tidak dengan organ dalamku, saat mereka bertahan hidup dengan jantung sehat yang mereka miliki, aku bertahan hidup dengan obat-obatan yang teramat membuatku kenyang, dan membuatku selalu ingin muntah.

  “jo..” tiba-tiba suara itu mengagetkanku yang sedari tadi melamun.
  “oh mama...” kataku dalam hati.
  “masuk nak, diluar dingin kamu nanti bisa sakit ingat kesehatanmu”.
  “ma.. Jo itu sehat, mama tidak usah khawatir padaku” kataku sambil berlalu meninggalkan mama.

Ada rasa kecewa terbersit dihati ini, mendengar kalimat mama yang selalu ia lontarkan padaku bahwa aku harus mengingat kesehatanku, tak bisakah sedikit saja menganggapku seperti orang-orang normal lainnya?, yang tak pernah ditegur jika berada di luar?, tak pernah dipaksa menggunakan jaket bila hujan tiba?, sampai kapan aku harus mengurung diriku untuk tidak menikmati setiap indahnya dunia?, walau hanya untuk merasakan tetesan hujan saja?, aku iri pada mereka yang bisa menikmati suasana malam dengan lampu-lampu jalan, duduk di tepi pantai, menikmati deru ombak yang saling merangkul seakan menari bahagia menikmati hidupnya. Seringkali aku berharap pada tuhan jika tak ada sesuatu yang membuatku menjadi kuat, aku ingin secepatnya kembali ketempat dimana seharusnya aku kembali.

*pagi

            Aku terbangun dari mimpiku, seperti biasanya aku selalu lupa dengan apa yang aku mimpikan, aneh bukan? Yah itulah aku, sejenak aku duduk di pinggir tempat tidurku menikmati setiap hangatnya cahaya matahari yang masuk dari celah-celah gorden kamarku, ya.. aku selalu melakukan ritual ini, aku selalu menikmati apa yang ada di sekelilingku, karena aku tahu, suatu saat aku tak bisa menikmatinya lagi.
Kulihat wajahku dicermin dan mengabsen setiap inci atribut  yang kugunakan takut ada yang salah, mengingat peraturan di Sekolah ku begitu ketat.

 “ma.. pa Jo pergi dulu yah” kataku sambil mencium pipi papa dan mama.
 “eh Jo name tag kamu ini ketinggalan nak!”.
 “ya ampun pantas Jo rasa ada yang kurang” kataku menghampiri mama dan mengambil name tag ku.

Ku pasang name tag itu pada seragam putih yang aku kenakan dengan balutan jas berwarna hitam, kutatap name tag ku sekali lagi, tertulis disana nama yang indah yang diberikan oleh mama 18 tahun yang lalu “JOLANDA”.

            Hari ini begitu melelahkan untukku seharian belajar dan  belajar, ya.. aku dilarang mengikuti ekstrakurikuler di Sekolah karena, penyakit jantung yang aku derita, jadi apalagi yang aku lakukan di Sekolah ini jika bukan belajar?, sungguh membosankan. Hari ini cuaca mendung, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi, terpaksa aku menunggu di dalam sekolah saja, aku takut menunggu di luar, mama selalu mengingatkanku untuk berhati-hati. Sepertinya ini akan lama, lantaran om Andi baru saja menelponku menginformasikan bahwa ban mobilnya bocor dan ia sedang berada di bengkel. Om Andi adalah saudara papa, yang juga seorang dokter pribadiku, hari ini papa menyuruh om Andi untuk menjemputku sekaligus untuk mengecek kondisiku, entahlah rasanya aku tak ingin mendengar apa-apa darinya, karena bila om Andi memeriksa keadaanku, aku tak pernah mendengar perubahan dalam diriku, mungkin apa yang aku harapkan sungguh mustahil.

  “Belajar terus..” kata seorang pria yang entah siapa tiba-tiba berada di  belakangku
  “kau siapa?,  sejak kapan kau ada di sini?”tanyaku heran.
  “itu tak penting, kau tahu? Buku itu sudah sangat bosan melihatmu”ejeknya.

Aku hanya terdiam mendengar kalimat pria itu, ya.. mungkin memang benar buku ini sudah sangat bosan melihatku, aku pun juga sama sepertinya.

  “Aku Riki”katanya, memperkenalkan dirinya padaku.
  “Aku Jolanda.. panggil saja aku Jo..” kataku menyambut uluran tangannya.

Seketika hening, dia menatapku begitu lama meski tangan kami sudah tak saling berjabat, jantungku tiba-tiba berdetak kencang, apakah dia mendengar suara jantungku?, oh tuhan.. semoga saja tidak.

  “K..kau mengapa menatapku seperti itu?” kataku gugup.
  “Mengapa kau selalu mengurung dirimu?, apa kau tidak suka melihat dunia?,hei dunia itu indah,       sementara kau hanya mengenal buku saja”.balasnya

Aku hanya tersenyum dan menatapnya, jika saja aku seperti orang normal aku akan menjelajahi setiap inci dunia ini.

  “Kau tak tahu diriku, kau bahkan baru mengetahui namaku saja.Pernahkah kau melihat seekor    kupu-kupu yang kehilangan separuh dari sayapnya?, ia sangat ingin terbang seperti kupu-kupu lain, tapi ia tak memiliki sayap yang normal. Apa kau tahu   bagaimana perasaan sang kupu-kupu? Yang ingin terbang bebas mengelilingi dunia namun tak bisa, lantaran sayap yang ia miliki telah hilang sebagian?, itu sangat menyakitkan” jawabku.

Ia menatapku dengan wajah bingungnya, aku tahu ia tak akan mengerti dengan ucapanku. Suatu saat aku yakin dia pasti akan mengetahuinya tanpa aku yang memberitahu. Kutatap langit yang mulai gelap, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Kulihat Riki tak berada di sampingku lagi, ia sedang bermain bersama bola basketnya. Ya.. ternyata Riki adalah ketua basket di Sekolahku, sungguh hidupku begitu sempit hingga hal sekecil ini pun tak ku ketahui.

  “Jolanda.. mengapa kau melihatku saja?, lawan aku”teriaknya, memanggilku.
  “Aku tak bisa bermain basket, aku tak tahu bagaimana caranya” terIakku padanya.
  “Nanti ku ajar!” balasnya lagi.

Aku tertawa, rasanya begitu lucu Aku dan Riki seperti berada di hutan saja berbicara dengan suara yang keras. Ketika aku ingin melangkahkan kakiku ke lapangan tempat Riki bermain basket, tiba-tiba turun hujan dari langit yang mulai menghitam tadi, ku urungkan niatku untuk bergabung bersama Riki dan memilih duduk melihat setiap tetesan hujan yang jatuh ke tanah tempatku bernaung. Riki menghampiriku dengan bajunya yang sudah mulai basah.

  “mengapa kau tidak menghampiriku?, ayo”ajaknya.
  “tapi..”

Belum sempat aku berbicara aku sudah ditarik olehnya, dan sekarang aku dapat merasakan guyuran hujan, ya aku merasakannya hal yang tak pernah aku rasakan. Aku menutup mataku dan merentangkan kedua tanganku, ini begitu indah aku merasa seperti bebas sekarang seakan lupa dengan jantungku yang terkadang tiba-tiba melemah.

  “kau senang?”
  “ya, ini adalah hari pertamaku berada di bawah guyuran hujan,”kataku dengan mata yang masih tertutup, tanpa memperdulikan Riki yang mungkin berada di sampingku.

Kurasakan dingin menyelimuti kulitku, hembusan angin yang begitu menenangkan, juga tetesan hujan yang membawa kesejukan. Kurasakan tanganku tidak sendiri lagi, ada seseorang yang menggenggamnya. Aku merasa bahwa itu adalah Riki, aroma parfumnya sama, aku masih mengingatnya ketika ia berada di sampingku, aku tak ingin melepaskan genggaman ini.

  “tuhan.. jangan Kau ambil diriku begitu cepat, aku masih ingin menikmati saat-saat seperti ini, bersama orang yang entah mengapa membuat jantung ini selalu berdetak dengan keras, tapi tak membuatnya menjadi lemah, setiap kali bersamanya”.
seketika air mataku mulai menetes, inikah jawaban dari setiap doa ku?, inikah kekuatan yang Engkau kirimkan untukku?


Continued....