Sabtu, 18 Juni 2016

CINTA SEJATI


Kadang cinta itu buta, tak bisa mencari kesempurnaan tatkala hati yang mulai berbicara. Sama halnya dengan diriku, aku..., yang jatuh cinta kepada angin.

Aku adalah Mawar, aku memiliki rupa yang sangat cantik, warna yang begitu menarik, dan kelopak yang sungguh indah. Hingga aku selalu digoda oleh para Kumbang dan juga Lebah. Ya, itulah mereka yang selalu menggodaku, setiap hari Lebah dan Kumbang di Taman ini selalu datang silih berganti, mereka berusaha untuk mendapatkan hatiku. Namun, tak ada satupun dari mereka yang membuatku jatuh cinta. Karena aku tahu, mereka hanyalah penggombal yang ingin mencari keuntungan. Mereka merayu dan mendekatiku agar aku dapat jatuh cinta pada salah satu dari mereka, agar mereka dapat mengambil nektar ku.

*”Hai mawar, kau sungguh cantik dan kecantikanmu sungguh tak ada duanya” kata sang kumbang.

*“Trimakasih” balasku padanya.

*”Mawar, kau jangan percaya padanya!, percayalah padaku.., aku akan memberimu kebahagiaan” timpa sang lebah.

*”Hey, lebah!, Mawar tak akan menyukaimu, ia lebih memilihku”balas kumbang.

Ya, itulah yang terjadi setiap hari, mereka berdebat untuk memperebutkan diriku, kadang sang Kumbang bernyanyi, kadang pula sang Lebah memujiku dengan kata-kata manisnya, semanis madu yang ia keluarkan. Namun aku hanya mengucapkan “terimakasih” pada mereka, walau mereka sangat menawan, aku tetap saja tak bisa jatuh cinta pada salah satu dari mereka.

Hingga suatu ketika, aku membuka hatiku. Bukan pada Kumbang atau pun Lebah yang senantiasa merayu, namun pada “dia” yang bernama Angin. Entah mengapa aku mencintainya, yang aku tahu hanyalah, dia selalu membuatku berdebar tiap kali ia berhembus di samping kelopak ku, aku selalu merasa damai ketika ia bertiup dengan lembutnya. Aku tak perduli bagaimana bentuk rupanya, yang aku rasakan adalah aku mencintainya dan itu sangat memberiku ketenangan.

Setiap sore, angin selalu datang untuk sekedar melihatku. ia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, setiap saat ia berhembus di sampingku. Bagaikan nyanyian merdu yang mengisi segala sepi dalam diriku yang hanya sendiri di dalam taman ini. Sampai pada suatu hari, angin datang menemuiku seperti biasanya, namun ia melihat begitu banyak Lebah dan Kumbang yang mendekat padaku. Tidak, mereka tidak lagi mendekati ku untuk membuatku jatuh cinta, mereka melakukannya hanya untuk menghiburku saja yang sedang bersedih menunggu Angin yang tak kunjung datang. Melihat mereka, angin begitu marah padaku, ia meluapkan segala emosinya. Ia berhembus dengan kuat hingga kelopakku jatuh perlahan-lahan, dan daunku berguguran. Setelah itu Angin pergi entah kemana, ia meninggalkanku. Kumbang  juga pergi meninggalkanku, ia bilang aku sudah tak tak cantik lagi, kelopakku telah lenyap sebagian dan daun-daunku juga telah jatuh berguguran tak tersisa. Kumbang tak mampu melihat ketidaksempurnaanku, namun lebah masih tetap bertahan, ia masih sudih menemaniku.

Setiap hari, aku selalu menangis mengingat Angin. Aku merindukannya. Begitu besar rasa cintaku padanya hingga aku tak pernah perduli bagaimana rupa Angin, tapi mengapa ia meninggalkanku??!, hanya karena masalah yang ia tak tahu kebenarannya, dan hanya karena aku tidak seperti dulu lagi. Kini aku semakin bersedih, lantaran lebah memutuskan untuk menjauhiku, karena wujudku tak sama seperti dulu lagi, aku tak cantik lagi, tubuhku semakin kering kerontang, aku telah berubah. Bukan lagi Mawar yang dulu, tak ada lagi Mawar cantik yang selalu mereka rayu, dan tak ada lagi mereka yang berdatangan untuk memperebutkan hatiku.

Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Air. Air menceritakan segalanya padaku, tentang ia yang selalu membasahi Taman ini, agar aku tetap hidup, dan tentang dia yang begitu mencintaiku.

*”Aku malu padamu” Kataku pada Air.

*”kenapa?”.

*”Aku sudah tak sempurna lagi, tapi kau masih memberikan air mu padaku”.

*”Ketahuilah Mawar, aku jatuh cinta padamu, sejak awal aku melihatmu di Taman ini, tapi diriku tak berani mendekatimu, lantaran rupa mu yang begitu cantik, aku dikalahkan oleh mereka yang selalu mendekatimu, mereka sangat menawan, aku takkan bisa sebanding dengan mereka. Apalagi saat aku mengetahui bahwa kau begitu mencintai Angin, aku hanya bisa tersenyum memandangmu bahagia, namun aku tak pernah berhenti untuk mengaliri Taman ini, agar kau dapat hidup lebih lama dan bahagia bersamanya, bahkan aku tak perduli akan banyaknya luka yang seringkali muncul kala aku melihat  kau bersamanya, cukup kau bahagia saja, itu sudah sangat membuatku bersyukur”. Jelasnya padaku.

Aku malu, aku menyesal..!, mengapa aku tak pernah perduli pada Air yang begitu tulus mencintaiku, aku hanya terpaku pada Angin yang hanya datang sesaat dan pergi lagi, tanpa pernah berkorban sedikit pun padaku.

*”Trimakasih Air”

Kini hari-hariku terasa indah bersama Air, perlahan-lahan aku melupakan Angin dan mulai mencintai Air. Wujudku pun telah berubah seperti sediakala. Kumbang dan Lebah yang dulunya menjauh, kini mendekatiku kembali. Tetapi aku tak perduli lagi pada mereka yang tak mampu menerima ketidaksempurnaan, aku ingin hidup bersama Air yang mencintaiku dengan tulus, tanpa pernah menghitung setiap pengorbanan yang ia lakukan padaku.

*Kadangkala kamu dibutakan oleh rasa cinta yang begitu dalam terhadap seseorang, hingga kamu mampu berkata “NYAMAN”, tanpa pernah mencari tahu, apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang engkau rasakan. Hingga ia pergi meninggalkan mu dan kamu menyesal dalam keterpurukan, menyalahkan diri sendiri, atau menyalahkan dia yang telah pergi.

Tanpa kamu menyadari, ada seseorang dalam hidupmu yang begitu mencintaimu dengan tulus, bahkan mengorbankan dirinya sendiri agar dapat melihat mu bahagia, meski bersama orang lain. Tanpa pernah menghitung setiap pengorbanan yang ia lakukan untukmu.

#kadangkala cinta sejati adalah "dia" yang tak pernah kau duga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar