Minggu, 20 Maret 2016

CERPEN


EDELWEISS
Petiklah untukku walau hanya setangkai

            Aku adalah wanita, namun aku belum menjadi wanita seutuhnya. Orang-orang yang melihatku mungkin merasa bahwa aku sempurna tanpa secuil kekurangan, namun itu hanyalah penglihatan mereka saja, tanpa tahu diriku yang sebenarnya. Aku selalu merasa bahwa tuhan tak begitu adil memberiku takdir yang harus kujalani seperti ini, dari luar fisikku begitu sempurna, rambut panjang tergerai indah hitam berkilau, hidung mancung dan kulitku yang putih. Tetapi tidak dengan organ dalamku, saat mereka bertahan hidup dengan jantung sehat yang mereka miliki, aku bertahan hidup dengan obat-obatan yang teramat membuatku kenyang, dan membuatku selalu ingin muntah.

  “jo..” tiba-tiba suara itu mengagetkanku yang sedari tadi melamun.
  “oh mama...” kataku dalam hati.
  “masuk nak, diluar dingin kamu nanti bisa sakit ingat kesehatanmu”.
  “ma.. Jo itu sehat, mama tidak usah khawatir padaku” kataku sambil berlalu meninggalkan mama.

Ada rasa kecewa terbersit dihati ini, mendengar kalimat mama yang selalu ia lontarkan padaku bahwa aku harus mengingat kesehatanku, tak bisakah sedikit saja menganggapku seperti orang-orang normal lainnya?, yang tak pernah ditegur jika berada di luar?, tak pernah dipaksa menggunakan jaket bila hujan tiba?, sampai kapan aku harus mengurung diriku untuk tidak menikmati setiap indahnya dunia?, walau hanya untuk merasakan tetesan hujan saja?, aku iri pada mereka yang bisa menikmati suasana malam dengan lampu-lampu jalan, duduk di tepi pantai, menikmati deru ombak yang saling merangkul seakan menari bahagia menikmati hidupnya. Seringkali aku berharap pada tuhan jika tak ada sesuatu yang membuatku menjadi kuat, aku ingin secepatnya kembali ketempat dimana seharusnya aku kembali.

*pagi

            Aku terbangun dari mimpiku, seperti biasanya aku selalu lupa dengan apa yang aku mimpikan, aneh bukan? Yah itulah aku, sejenak aku duduk di pinggir tempat tidurku menikmati setiap hangatnya cahaya matahari yang masuk dari celah-celah gorden kamarku, ya.. aku selalu melakukan ritual ini, aku selalu menikmati apa yang ada di sekelilingku, karena aku tahu, suatu saat aku tak bisa menikmatinya lagi.
Kulihat wajahku dicermin dan mengabsen setiap inci atribut  yang kugunakan takut ada yang salah, mengingat peraturan di Sekolah ku begitu ketat.

 “ma.. pa Jo pergi dulu yah” kataku sambil mencium pipi papa dan mama.
 “eh Jo name tag kamu ini ketinggalan nak!”.
 “ya ampun pantas Jo rasa ada yang kurang” kataku menghampiri mama dan mengambil name tag ku.

Ku pasang name tag itu pada seragam putih yang aku kenakan dengan balutan jas berwarna hitam, kutatap name tag ku sekali lagi, tertulis disana nama yang indah yang diberikan oleh mama 18 tahun yang lalu “JOLANDA”.

            Hari ini begitu melelahkan untukku seharian belajar dan  belajar, ya.. aku dilarang mengikuti ekstrakurikuler di Sekolah karena, penyakit jantung yang aku derita, jadi apalagi yang aku lakukan di Sekolah ini jika bukan belajar?, sungguh membosankan. Hari ini cuaca mendung, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi, terpaksa aku menunggu di dalam sekolah saja, aku takut menunggu di luar, mama selalu mengingatkanku untuk berhati-hati. Sepertinya ini akan lama, lantaran om Andi baru saja menelponku menginformasikan bahwa ban mobilnya bocor dan ia sedang berada di bengkel. Om Andi adalah saudara papa, yang juga seorang dokter pribadiku, hari ini papa menyuruh om Andi untuk menjemputku sekaligus untuk mengecek kondisiku, entahlah rasanya aku tak ingin mendengar apa-apa darinya, karena bila om Andi memeriksa keadaanku, aku tak pernah mendengar perubahan dalam diriku, mungkin apa yang aku harapkan sungguh mustahil.

  “Belajar terus..” kata seorang pria yang entah siapa tiba-tiba berada di  belakangku
  “kau siapa?,  sejak kapan kau ada di sini?”tanyaku heran.
  “itu tak penting, kau tahu? Buku itu sudah sangat bosan melihatmu”ejeknya.

Aku hanya terdiam mendengar kalimat pria itu, ya.. mungkin memang benar buku ini sudah sangat bosan melihatku, aku pun juga sama sepertinya.

  “Aku Riki”katanya, memperkenalkan dirinya padaku.
  “Aku Jolanda.. panggil saja aku Jo..” kataku menyambut uluran tangannya.

Seketika hening, dia menatapku begitu lama meski tangan kami sudah tak saling berjabat, jantungku tiba-tiba berdetak kencang, apakah dia mendengar suara jantungku?, oh tuhan.. semoga saja tidak.

  “K..kau mengapa menatapku seperti itu?” kataku gugup.
  “Mengapa kau selalu mengurung dirimu?, apa kau tidak suka melihat dunia?,hei dunia itu indah,       sementara kau hanya mengenal buku saja”.balasnya

Aku hanya tersenyum dan menatapnya, jika saja aku seperti orang normal aku akan menjelajahi setiap inci dunia ini.

  “Kau tak tahu diriku, kau bahkan baru mengetahui namaku saja.Pernahkah kau melihat seekor    kupu-kupu yang kehilangan separuh dari sayapnya?, ia sangat ingin terbang seperti kupu-kupu lain, tapi ia tak memiliki sayap yang normal. Apa kau tahu   bagaimana perasaan sang kupu-kupu? Yang ingin terbang bebas mengelilingi dunia namun tak bisa, lantaran sayap yang ia miliki telah hilang sebagian?, itu sangat menyakitkan” jawabku.

Ia menatapku dengan wajah bingungnya, aku tahu ia tak akan mengerti dengan ucapanku. Suatu saat aku yakin dia pasti akan mengetahuinya tanpa aku yang memberitahu. Kutatap langit yang mulai gelap, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Kulihat Riki tak berada di sampingku lagi, ia sedang bermain bersama bola basketnya. Ya.. ternyata Riki adalah ketua basket di Sekolahku, sungguh hidupku begitu sempit hingga hal sekecil ini pun tak ku ketahui.

  “Jolanda.. mengapa kau melihatku saja?, lawan aku”teriaknya, memanggilku.
  “Aku tak bisa bermain basket, aku tak tahu bagaimana caranya” terIakku padanya.
  “Nanti ku ajar!” balasnya lagi.

Aku tertawa, rasanya begitu lucu Aku dan Riki seperti berada di hutan saja berbicara dengan suara yang keras. Ketika aku ingin melangkahkan kakiku ke lapangan tempat Riki bermain basket, tiba-tiba turun hujan dari langit yang mulai menghitam tadi, ku urungkan niatku untuk bergabung bersama Riki dan memilih duduk melihat setiap tetesan hujan yang jatuh ke tanah tempatku bernaung. Riki menghampiriku dengan bajunya yang sudah mulai basah.

  “mengapa kau tidak menghampiriku?, ayo”ajaknya.
  “tapi..”

Belum sempat aku berbicara aku sudah ditarik olehnya, dan sekarang aku dapat merasakan guyuran hujan, ya aku merasakannya hal yang tak pernah aku rasakan. Aku menutup mataku dan merentangkan kedua tanganku, ini begitu indah aku merasa seperti bebas sekarang seakan lupa dengan jantungku yang terkadang tiba-tiba melemah.

  “kau senang?”
  “ya, ini adalah hari pertamaku berada di bawah guyuran hujan,”kataku dengan mata yang masih tertutup, tanpa memperdulikan Riki yang mungkin berada di sampingku.

Kurasakan dingin menyelimuti kulitku, hembusan angin yang begitu menenangkan, juga tetesan hujan yang membawa kesejukan. Kurasakan tanganku tidak sendiri lagi, ada seseorang yang menggenggamnya. Aku merasa bahwa itu adalah Riki, aroma parfumnya sama, aku masih mengingatnya ketika ia berada di sampingku, aku tak ingin melepaskan genggaman ini.

  “tuhan.. jangan Kau ambil diriku begitu cepat, aku masih ingin menikmati saat-saat seperti ini, bersama orang yang entah mengapa membuat jantung ini selalu berdetak dengan keras, tapi tak membuatnya menjadi lemah, setiap kali bersamanya”.
seketika air mataku mulai menetes, inikah jawaban dari setiap doa ku?, inikah kekuatan yang Engkau kirimkan untukku?


Continued....

3 komentar: