Pena Terakhir
Oleh: Febhy Syafri
“Lara.. makan dulu nak” kata seorang wanita yang ku panggil ibu.
“Sebentar bu..Lara sedang ingin menuntaskan tulisan ini” kataku pada sang wanita yang selalu menjadi motivasiku untuk tetap bertahan hidup, dari kerasnya tiang tiang yang ingin ku patahkan.
Namaku Lara Delisa panggil saja aku Lara. usiaku 15 tahun, jika kalian melihatku mungkin kalian mengira aku berumur 20 tahun, wajahku terlihat seperti orang dewasa sangat jauh dari perbandingan umurku, mungkin kalian bertanya-tanya mengapa demikian, atau beberapa dari kalian mungkin tak percaya dengan kata-kataku, 2 tahun yang lalu aku divonis terkena leukemia stadium akhir, saat itu aku begitu kacau. Dokter memintaku untuk tidak lagi melanjutkan sekolah tapi aku bersih keras memohon pada ibu agar aku tetap bersekolah, hari-hari di sekolah yang kujalani tidak seperti dulu lagi, aku lebih sering berada di dalam kelas, dan setiap jam makan siang kepalaku selalu sakit, kadang ada darah yang keluar dari hidungku, kadang aku malu dengan teman-temanku mereka menatapku seperti monster mengerikan, terlebih lagi rambutku kadang gugur dan tersebar di lantai kelas, mereka memandang jijik padaku, hingga aku kadang marah pada mereka dan itu semakin membuat mereka ketakutan padaku.
“huuuu...huuu..”
“Lara !! kamu kenapa nak?”
“Mereka jahat padaku bu” kataku sambil menangis
“Apa yang mereka lakukan padamu?”
“Aku seperti monster bagi mereka, mereka mengejekku”
Siang tadi setelah mereka mengejekku aku bergegas mengambil tasku dan pulang ke rumah, tanpa meminta izin kepada bu Erni guru mate-matika di kelasku, air mataku tak bisa kubendung aku tak mau mereka melihatku semakin lemah dengan menyaksikan aku menangis di hadapan mereka. Begitu sampai aku segera masuk ke kamar, ibu melihatku menangis ia mencoba menenangkanku dengan memelukku pelukan ibu begitu damai membuatku sedikit lebih tenang.
“Bu.. aku tak ingin sekolah lagi, aku malu”
“baiklah nak jika itu keinginanmu, tidak apa-apa dan sebaiknya kamu menjalani kemoterapi saja agar kamu bisa sembuh dari penyakitmu dan bisa bersekolah lagi”
Kemoterapi.. adalah suatu hal yang sangat aku hindari, aku takut jika rambutku yang panjang nantinya akan habis dan wajahku pasti sangat jelek, dan disinilah aku sekarang di taman ini tempat yang selalu aku gunakan untuk membuat surat, disisa umurku aku ingin membuatkan ibu satu surat untuk selalu ia baca ketika aku sudah tak ada lagi, bahkan aku menunda ajakan ibu untuk makan demi membuat surat ini aku bukan orang yang mahir dalam berkata-kata tapi aku terus mencobanya, entah ini sudah pena yang keberapa, isi surat ku masih jelek sehingga jika salah aku pasti merobek kertasnya.
*pagi
Hari ini aku bangun lebih awal, ibu telah menyiapkan perlengkapanku untuk kugunakan di sana, ya ini adalah hari pertamaku melakukan kemoterapi masih ada kebimbangan dan ketakutan dalam hatiku, tapi aku harus mengabaikannya. Aku harus membanggakan ibu, ibu yang selalu berjuang demi hidupku meski aku sendiri tahu, sangat kecil kemungkinanku untuk sembuh.
“sudah siap sayang?”
“sudah bu”
“kamu harus optimis, kamu bisa!”
Kata-kata ibu selalu seperti pemanis dalam setiap pil pahit kehidupan yang ku hadapi, ibu adalah wanita motivatorku, aku begitu bangga padanya, kadang ingin rasanya menangis melihat ibu yang begitu kuat, merawatku seorang diri tanpa ayah. Raut wajahnya yang mulai menua tercetak halus di sudut matanya menggambarkan garis-garis kecil di sana, ya setelah kepergian ayah, ibu semakin menjadi wanita yang tangguh dan penuh keyakinan, ayah pergi meninggalkan aku dan ibu akibat kecelakaan tragis yang membuat ayah meninggal sewaktu aku masih berada di dalam kandungan, sebab itulah aku tak pernah tahu wajah asli ayah seperti apa, aku hanya mengaguminya lewat foto yang dipajang ibu dekat meja rias di dalam kamarnya, tapi itu semua tak membuat ibu putus asa, satu kata-kata ibu yang selalu ia berikan kepada orang-orang terdekatnya, “jangan pernah mengeluh” dan itu pula yang kutanamkan hingga sekarang.
Kami telah tiba di sebuah rumah sakit yang lumayan besar ini memang di khususkan untuk para penderita kanker sepertiku leukemia atau yang biasa disebut kanker darah, aku dan ibu dihampiri oleh seorang pria, mungkin dia lebih muda dari ibu, ia yang nantinya akan menjadi dokter pribadiku selama aku di kemo di rumah sakit ini.
“Selamat pagi Ny.Arsy”
“Pagi Dokter” jawab ibu
“Halo Lara, apa kabar?”
“Baik dokter” kataku melemparkan senyumku padanya
“Saya dokter Frans, yang akan menangani kamu selama disini, Mari ikut saya”
Kami segera mengikuti langkah dokter Frans, yang berjalan menuju sebuah ruangan yang bisa kubilang sedikit lebih sepi dari ruangan lain, terlihat di sana ada tiga orang perawat yang sedang menunggu kami, lebih tepatnya menungguku.
“Selamat pagi!!” ucap semua perawat itu kepada kami
“pagi” kataku dan ibu bersamaan.
“Mari silahkan masuk, ibu tunggu di luar saja yah” kata seorang dari perawat itu.
Kulihat dari name tag yang ia kenakan, namanya Sarah. Namanya sangat indah, wajahnya pun begitu cantik, aku disuruh berbaring disebuh tempat tidur khusus kemo, kulihat alat-alat medis di sana, sang dokter mulai mengambil suntikannya, ada rasa takut dalam diriku tapi aku mengingat raut wajah ibu, ia pasti cemas menungguku di luar sana,aku harus kuat pasti ini tak akan sakit. Para perawat tadi memegang kaki dan tanganku, apa yang akan terjadi padaku?, mengapa mereka begitu berlebihan?, kupejamkan mataku ketika dokter mendekatkan suntikan itu pada lenganku.
“aaaaaarrgghh!! Dokter sakit!!”
Seakan bagai disengat listrik beribu-ribu volt yang aku rasakan begitu cairan dari suntik itu menyebar ditubuhku.
"Tolongg hentikan,ini sakit suster!!!"
Aku meronta hebat, rasanya begitu sakit aku kira suntikan ini seperti saat aku di suntik waktu SD namun ternyata sangan jauh berbeda, ingin rasanya aku mencabut suntikan itu dan berlari keluar, aku ingin pulang ini sungguh menyakitkan. Air mataku mulai menetes di sana, aku merasa sebentar lagi akan mati.
*Ny.Arsy
“aaaaaarrgghh!! Dokter sakit!!”
Itu teriakan Lara anakku, suaranya begitu keras dan menggema dari luar ruang kemo itu, oh tuhan aku sungguh ingin memeluk putriku, atau aku ingin menggantikannya saja, biar aku yang merasakan sakit itu. Ku coba menahan air mata ini namun rasanya aku sudah tak sekuat hari kemarin lagi, perempuan mana yang baik-baik saja ketika melihat anaknya kesakitan?, aku tak ingin menyakiti Lara namun aku pun juga takut kehilangannya, dan ini adalah jalan satu-satunya yang harus ku lakukan pada Lara putriku. Kulihat dia dari balik kaca di pintu ruang kemo ini, ia sungguh kesakitan, aku menutup mulutku rapat-rapat untuk tetap terdiam walau air mataku semakin lama semakin membasahi wajah ini, kusandarkan tubuhku di pintu itu dan aku terduduk di sana, kenapa harus anak ku tuhan?, mengapa tak kau pilih diriku saja untuk merasakan sakit yang teramat ini?, mengapa harus dia?, dia masih terlalu muda untk merasakan kesakitan ini, sedangkan aku?, aku telah tua di makan usia, mengapa bukan aku,?? , ku tekuk kakiku dan kupeluk berharap aku dapat menyembunyikan wajah lemahku di sana, kututup telingaku agar tak mendengar teriakan putriku, yang membuatku sangat sakit mendengarnya.
*Lara
Aku terbangun dari tidurku yang begitu panjang. Kata ibu, dokter memberiku obat penenang agar aku tidak langsung meronta keluar saat pengobatan selesai, kepalaku sangat pusing dan aku mual.
“Ibu.. aku mau muntah”
“di sini saja nak”
Ibu memberiku sebuah wadah untuk ku gunakan saat ingin membuang sampah dalam perutku, rasanya sangat tidak enak.
“Bu.. harus berapa kali aku di kemo?”
“Sampai Lara sembuh nak”
“Ini sangat tidak enak bu, Lara lebih suka di rumah kita, ayo kita pulang bu”
Ibu tak menjawab kata-kataku ada pancaran kesedihan dimatanya, ibu mengusap kepalaku, menenangkanku di sana hingga aku tertidur kembali.
*Hari Ke-5
Hari-hari yang kulalui sangat berbeda dengan para remaja lain, jika mereka berjalan-jalan di Mall, aku hanya menetap di ruangan ini, jika bukan aku di bawah ke taman rumah sakit ,dengan ditemani penaku yang selalu setia ku bawa kemana saja untuk membuat selembar surat untuk ibu.
“halo sayang gimana kemonya ?”
“baik bu”
“aduh rambut kamu nih, sini ibu sisir”
Mendengar perkataan ibu, aku langsung membetulkan posisiku agar ibu lebih mudah menyisir rambutku, aku begitu senang saat ibu seperti ini padaku, kurasakan ibu menyisir rambutku begitu halus, penuh perasaan, tapi seketika gerakan tangan ibu terhenti, ada apa dengan ibu?
“Buu kenapa ibu berhenti?”
Ibu hanya terdiam, tak menjawabku. Aku mendengar sebuah isakan di balik punggungku, apa ibu menangis? Hingga rasa penasaranku membuatku berbalik melihat ibu, aku terkejut melihat ibu yang menangis sambil melihat helaian-helaian rambut di tangannya.
“Buu, apakah itu rambutku?”
Pertanyaanku tak dijawab lagi oleh ibu, ia masih terus menangis dan akhirnya memelukku, kupegang kepalaku yang bersandar di bahu ibu kusisir rambutku dengan jemari tangan ini, ketika kulihat begitu banyak rambut yang melekat di sana, dan aku sudah tahu jawabannya.
“Buu, sebaiknya hentikan saja kemoterapi ini, Lara sudah tidak kuat lagi bu sakitnya selalu membuatku muntah dan..”
“jangan bicara seperti itu, kau harus kuat. Kau istirahat saja besok ibu akan datang lagi kesini membawa bolu kukus kesukaanmu”kata ibu berusaha menormalkan suaranya
“benarkah bu? Wah, semoga aku bisa memakannya besok”
“selamat malam sayang”
Kulihat ibu melangkahkan kakinya keluar dari ruanganku, begitu banyak rasa rindu di sana,malam ini kulanjut menuliskan surat untuk ibu, aku takut jika aku meninggalkan ibu tanpa memberinya kenang-kenangan, meski kepalaku pusing dan harus keluar masuk toilet untuk mengeluarkan muntahku, aku tak pernah ingin menyerah membuatkan ibu sebuah surat, bagiku ini tak ada artinya dibanding pengorbanan ibu sewaktu mengandungku hingga sampai sekarang ibu masih merawatku yang kesakitan.
*Ny.Arsy
Pagi ini aku sudah tak sabar bertemu dengan putri cantikku, bahkan pagi-pagi sekali aku sengaja membuatkannya bolu kukus kesukaanya, semoga dia makan dengan lahap, kuparkirkan mobil ku ditempat parkir yang tersisa di sana, ka langkahkan kakiku menuju ruangan Lara, putriku. Kulihat ruangannya dari luar ada beberapa dokter dan perawat di sana, ada apa ini?.
“pagi!!”
Kerumunan itu seketika berhamburan, memperlihatkan putriku terbujur kaku di sana, kulihat darah dari hidung dan mulutnya, aku sontak kaget dan tanganku menjadi lemah.
Prangggghhhhhh!!!!!
tempat kue yang ku pegang sedaritadi, jatuh berhamburan di sana. Aku berlari ketempat putriku berada, tak ku pedulikan beberapa pasang mata yang begitu sedih melihatku.
“Lara !!, nak bangun nak, oh tuhan!” kataku memeluk putriku
“Maafkan saya Ny.Arsy, saya tidak bisa menyelamatkan putri ibu”
“maksud anda apa dokter?”
“Putri ibu sudah meninggal, kami berusaha menyelamatkannya tapi tuhan berkata lain, kemoterapi yang kami lakukan adalah yang terbaik namun tak mampu lagi mematikan separuh dari sel-sel kanker yang bersarang di tubuhnya"
Menangis, hanya itu yang kulakukan andai nyawaku dapat ditukar dengannya aku siap mati sekarang juga. Dulu aku kehilangan separuh dari hatiku, dan sekarang aku kehilangan separuhnya lagi. Aku tak memiliki hati lagi sekarang, bagaimana aku bisa hidup tanpa hatiku?. Orang-orang satu persatu telah pergi meninggalkan pemakaman putriku, Lara. Rasanya seperti mimpi, dia tidak ada lagi, tak ada lagi perempuan mungil yang menghabiskan masakanku, tak ada lagi rambut panjang yang selalu kusisir, tak ada lagi rengekan darinya untuk menyuruhku membacakan dongeng dan masih banyak lagi, nak ibu merindukanmu. Kubuka kertas yang kutemukan di bawah bantalnya, masih terlihat jelas di sana bekas darah entah dari hidung atau bibirnya, bisa kurasakan pasti ia begitu kesakitan saat menulis ini.
Untukmu, ibu tersayang.
Ibu entah mengapa malam ini aku begitu gelisah, aku takut jika aku harus pergi lebih cepat sebelum aku dapat menyelesaikan suratku ini, ibu kau harus tahu kau tak pernah salah dalam mendidikku, sikapmu yang kuat telah menjadikanku seorang gadis yang juga kuat, sama sepertimu..
Ibu kau tahu?, aku selalu takut dikemo..aku takut jika suatu saat rambutku akan gugur, dan akan hilang seluruhnya, bila rambutku gugur semua, tak ada lagi yang bisa kau sisir setiap pagi, ibu.. ternyata kemoterapi itu tidak seperti yang kubayangkan, rasanya begitu sakit buu, kadang aku ingin menyerah tapi kau selalu menjadi motivasiku untuk bertahan..
Ibu jika esok aku tak lagi bersamamu, kau jangan marah karena tak memakan bolu kukus buatanmu,aku tahu kau pasti membuatnya dengan sepenuh hati hingga rasanya selalu lezat, aku pasti akan merindukannya.
Ibu.. jika kau telah membaca ini, berarti ini adalah pena terakhirku..dalam waktuku yang kurang ini, aku selalu berusaha menulis surat untukmu, tapi hasilnya sangat jelek hingga malam ini mungkin tuhan mendengar doaku, dan iba melihatku yang telah letih menulisnya, mungkin suratku akan sedikit kotor bu, karena darah dari hidungku tak bisa berhenti mengalir di sana, tapi percayalah aku menulisnya dengan segenap hati yang bersih. Aku sangat menyayangimu seandainya tuhan memberiku satu kesempatan lagi, aku ingin mati dalam pelukanmu.
Selamat tinggal wanita hebatku, sampai di sinilah perjuanganku. Sebentar lagi aku akan bertemu ayah dan akan kuceritakan padanya bahwa ibu sangat merindukan ayah.
Salamku,dari putrimu
Kini tangisku pecah, membaca surat darinya membuatku begitu terluka, aku tak menyangka ia sekuat itu karena ingin membahagiakanku, kuletakkan mawar putih di sana, gerimis mulai turun seakan terhanyut dalam kesedihanku, “semoga kau tenang di sana nak”, kataku dan berlalu pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar